Panduan

Kumbang tanduk kelapa sawit: gejala dan pengendalian

Diperbarui 15 Oktober 2026. Angka harga dan biaya diberi tanggal sumbernya. Juga tersedia dalam bahasa Inggris.

Kumbang tanduk, atau kumbang badak, Oryctes rhinoceros, adalah hama utama sawit muda. Ia berbiak di batang dan kayu yang membusuk, lalu menggerek pucuk tanaman yang belum membuka. Tanda khasnya: daun baru yang terbuka dengan guntingan berbentuk huruf V. Kebun yang baru diremajakan paling rawan, karena tumpukan batang tua adalah sarang yang sempurna.

Mengenali kumbangnya

Kumbang dewasa panjangnya 40 sampai 50 milimeter, cokelat tua sampai hitam, dengan tanduk kecil di kepala. Ia aktif pada malam hari dan tertarik cahaya lampu. Betina bertelur pada bahan organik lapuk: batang sawit atau kelapa yang mati, tumpukan serbuk gergaji, kayu busuk, sampah, dan kotoran ternak. Larvanya tumbuh di dalam tumpukan itu selama berbulan-bulan sebelum menjadi kumbang yang terbang mencari pucuk.

Gejala serangan

Kumbang dewasa masuk ke pangkal pelepah muda dan memakan jaringan lunak di titik tumbuh. Lubang gereknya sering tidak terlihat; yang terlihat adalah akibatnya satu sampai dua bulan kemudian, ketika daun membuka dengan "bekas guntingan dengan pola seperti huruf V". Kalau titik tumbuh rusak, pohon tidak bisa lagi membentuk daun dan mati.

Pedoman Kementerian Pertanian menyebut sawit muda di areal replanting sebagai yang paling berisiko; tanaman menghasilkan juga bisa diserang. Studi lapangan INSTIPER di Sumatra Utara pada 2025 pun mengamati kelompok umur itu: tanaman belum menghasilkan umur dua dan tiga tahun serta tanaman menghasilkan tahun pertama.

Pengendalian: mulai dari sarangnya

Sanitasi

Kementerian Pertanian menempatkan sanitasi di urutan pertama: "pembersihan seluruh tempat berkembang biak". Tumpukan batang, serbuk gergaji, dan kayu lapuk disingkirkan atau dimusnahkan. Pada peremajaan, pilihan cara menumbangkan pohon tua ikut menentukan: studi INSTIPER 2026 di Labuhan Batu Selatan menemukan populasi kumbang dan tingkat serangan lebih rendah pada sistem tumbang benam daripada tumbang cincang, satu lokasi dan satu musim, jadi perlakukan sebagai petunjuk, bukan kepastian.

Tanaman penutup tanah

Pedoman yang sama menyarankan tanaman penutup tanah di lahan replanting untuk menutupi sisa batang yang bisa menjadi sarang, sehingga kumbang lebih sulit menemukan tempat bertelur.

Perangkap feromon

Bahan aktif feromon kumbang tanduk adalah etil 4-metiloktanoat, yang menarik jantan maupun betina. Pedoman Kementan memakai pipa PVC berdiameter 15 sentimeter setinggi dua meter dengan feromon digantung di dekat lubang atas dan dua kilogram serbuk gergaji di dasarnya, sepuluh perangkap per hektar, diganti dan diperiksa setiap bulan. Halaman Ditjenbun yang lain menyebut "2-3 perangkap/hektar", dan pedoman untuk kelapa (2023) memberi "1-2 sachet per ha" dengan penggantian setiap tiga bulan; takarannya berbeda antarpedoman, jadi ikuti petunjuk penyuluh setempat.

Metarhizium anisopliae

Jamur hijau ini menginfeksi larva di sarangnya. Takaran Kementan: 50 gram per tempat berbiak berukuran 1 x 1 x 0,5 meter, atau kotak perangkap serbuk gergaji berukuran sama dengan 25 gram jamur, lima kotak per hektar, dievaluasi setiap tiga bulan. Penelitian Universitas Gadjah Mada pada kebun kelapa di Kulon Progo (2009 sampai 2010) menemukan 265 dari 281 larva di sarang terinfeksi, dan kerusakan daun baru turun dari 4,73 persen pada kontrol menjadi 1,08 persen dengan feromon saja dan 0,65 persen dengan feromon plus Metarhizium. Baculovirus oryctes adalah agen hayati kedua, dilepas lewat sepuluh kumbang terinfeksi per hektar.

Yang sering ditanyakan

Apakah kumbang tanduk menyerang sawit dewasa?
Bisa, tetapi kerugian terbesar ada pada sawit muda di areal replanting. Pohon dewasa punya cukup pelepah untuk bertahan; bibit dan tanaman belum menghasilkan tidak.
Cukupkah perangkap feromon saja?
Tidak. Perangkap menangkap kumbang dewasa yang sudah terbang, sementara larva terus tumbuh di sarang. Hasil terbaik dalam penelitian UGM datang dari gabungan sanitasi, perangkap, dan Metarhizium.
Apakah Metarhizium membunuh kumbang dewasa?
Sasaran utamanya larva di sarang, tetapi menurut pedoman Kementan kumbang dewasa juga dapat terinfeksi. Karena itu jamurnya ditabur di tumpukan sisa, bukan di pohon.

Di dalam game

Di Sawit Simulator, kumbang hidup dari "sisa tebangan", angka 0 sampai 100 pada setiap petak. Menebang hutan meninggalkan 55; membakar meninggalkan 10, atau 40 kalau yang terbakar adalah kebun sawit, karena batang hangus adalah makanan kumbang juga. Sisa itu membusuk sangat lambat, hampir empat tahun untuk hutan yang ditebang, dan selama itu kumbang berbiak di dalamnya: dua ekor per poin sisa, menggandakan diri kira-kira setiap dua belas hari, dan hinggap ke petak tetangga yang juga punya sarang.

Seperti di dunia nyata, kumbang di game hanya menyerang bibit dan sawit belum menghasilkan; pohon dewasa dibiarkan. Jawabannya pun sama: regu sanitasi membersihkan 60 poin sisa sekaligus dan satu-satunya obat yang tuntas; perangkap feromon membunuh kumbang selama 120 hari; Metarhizium memperlambat perbiakan selama 90 hari. Yang disederhanakan: tanaman penutup di game menahan lereng dari longsor, bukan menutup sarang kumbang, dan cara menumbangkan pohon tua tidak dibedakan.

Sumber

  1. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, SINTA: Kumbang Tanduk (mengutip Pedoman Pengamatan dan Pengendalian OPT Penting Kelapa Sawit, Ditlinbun 2010). https://sinta.ditjenbun.pertanian.go.id/kumbang-tanduk/
  2. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, SINTA: Kumbang Oryctes rhinoceros (2-3 perangkap per hektar). https://sinta.ditjenbun.pertanian.go.id/kumbang-oryctes-rhinoceros/
  3. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Pengendalian Kumbang Oryctes rhinoceros pada Tanaman Kelapa, 1 Agustus 2023. https://ditjenbun.pertanian.go.id/pengendalian-kumbang-oryctes-rhinoceros-pada-tanaman-kelapa/
  4. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia (UGM) 19(2), 2015, Tekanan Metarhizium anisopliae dan Feromon terhadap Populasi dan Tingkat Kerusakan oleh Oryctes rhinoceros. https://journal.ugm.ac.id/jpti/article/view/17260
  5. AGROFORETECH (INSTIPER Yogyakarta) 4(1), 2026, Perbandingan Pengendalian Oryctes rhinoceros pada Kebun Kelapa Sawit Replanting dengan Sistem Tumbang Benam dan Tumbang Chipping. https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2399

Baca juga